Selasa, 17 Desember 2013

BUKAN HANYA SEKEDAR BANNER

Lumayan mengejutkan. Itulah kalimat yang cukup mewakili perasan saya beberapa bulan terakhir. Sudah setahun-an saya kembali lagi ke Sumenep, sebuah kota kecil tempat saya lahir semenjak meninggalkannya tahun 2002 untuk kuliah. Jadi ada jangka waktu 10 tahun dimana saya benar-benar kehilangan informasi tentang Sumenep. Akhirnya tahun 2012 saya memutuskan untuk mundur dari pekerjaan saya dan balik kandang ke Sumenep. Pada fase inilah saya mulai dikejutkan dengan fenomena bermunculannya banyak komunitas di Sumenep.


Mulai dari komunitas pecinta sepakbola, otomotif, sejarah dan budaya, tak ketinggalan pula komunitas pecinta akik dan pusaka. Saya yakin bakalan ada komunitas-komunitas baru lainnya dengan berbagai macam minat dan hobby –nya.

Tentu fenomena ini menyenangkan. Kenapa? Bagi kota sekecil Sumenep, fenomena ini membawa dampak yang –menurut saya- cukup hebat. Kalau dulu, setiap malam minggu kota ini hanya berisi balapan liar. Sekarang banyak berbeda, hampir di banyak sudut kota tercipta titik-titik berkumpul yang biasanya di tandai dengan Banner-banner berisikan nama komunitas masing-masing. Sekarang Sumenep lebih berwarna. Dan saya berharap dapat lebih berkembang (inilah yang terpenting).

Tulisan kali ini saya tidak akan membahas komunitas-komunitas tersebut, melainkan seberapa besar saya sebagai warga Sumenep menitipkan harapan “Berkembang dan Majunya” kabupaten ini.

Sudah banyak yang membahas tentang apa itu komunitas, jadi saya pikir anda bisa mencarinya sendiri tentang apa arti istilah komunitas itu. Dan saya menaruh sebuah keyakinan pada para pelakunya bahwa mereka mengerti benar tentang apa esensi berkomunitas. Sebagai sebuah organisasi, komunitas merupakan media pembelajaran bagi para anggotanya. Pendewasaan, pengembangan diri, dan bahkan borsosialisasi dengan sesamanya. Jadi kalau hal ini tidak disadari dengan baik, maka akan sangat disayangkan, karena pada akhirnya komunitas hanya akan menjadi ajang buang-buang waktu, pikiran dan tenaga yang berakhir tanpa manfaat lebih. Kenapa tidak menghabiskan waktu saja dirumah untuk bercengkerama dengan keluarga, atau pacar, atau mungkin selingkuhan.

“Manfaat lebih” ini menurut saya sangat penting, karena bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan bagi lingkungannya atau bahkan lebih luas lagi pada masyarakat. Banyak orang tua mengeluh karena anaknya tidak betah dirumah, banyak istri marah-marah karena suaminya sering keluar sampai malam, banyak pacar juga buruk sangka karena cowoknya dikira selingkuh. Semuanya selalu dihubungkan dengan kegiatan komunitas. Kenapa hal ini terjadi? Tentu karena mereka belum bisa merasakan secara langsung “manfaat lebih” dari adanya komunitas. Bahkan di beberapa daerah komunitas dikembangkan kearah yang tidak  baik. Masih ingat dengan fenomena geng motor? Ya itulah bentuk negative dari berkomunitas, bukan lagi masyarakat senang tapi justru tidak mengharapkan kehadirannya. Dan banyak lagi contoh negative dari berkomunitas.

Gambaran singkat diatas diharapkan memberikan sedikit perenungan bagi teman-teman Komunitas. Pertanyakan pada diri kita masing-masing, sumbangsih apa yang sudah kita berikan bagi kota ini. Apakah cukup dengan “Banner Eksistensi” serta atribut-atribut lain yang kita bawa dan agung-agungkan untuk membangun kota ini? Tentu tidak, saya berkeyakinan kita bisa memberikan “lebih”.


Dengan tulisan ini saya mengajak semua teman-teman komunitas untuk ikut menjadi bagian dari gerbong kemajuan. Berpartisipasilah bersama-sama, “lakukan dari hal terkecil dan lakukanlah mulai saat ini” (AA Gym).

3 komentar:

  1. Mantab tulisannya, Pak RT. Komunitas memang punya dampak positif dan negatif, bergantung pada ke arah mana komunitas dijalankan oleh masing-masing anggotanya.

    BalasHapus
  2. Dari komunitas pecinta hewan, hoby sampai komunitas Kampes. Mana Aksimu, bkn Pesonamu. Hajar Jalanan

    BalasHapus